PELALAWAN - Tim gabungan memasang dua kamera trap di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan menyusul berulangnya kemunculan tiga ekor Harimau Sumatera yang terekam berada sangat dekat dengan permukiman warga.
Langkah mitigasi ini dilakukan sejak Minggu (19/1/2026), setelah seekor harimau dewasa bersama dua anaknya terlihat berkeliaran dan videonya viral di media sosial.
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau bergerak cepat dengan melibatkan unsur kepolisian, perangkat desa, serta pihak perusahaan pemegang izin kawasan.
“Ada dua kamera trap yang dipasang di titik kemunculan harimau untuk memantau pergerakan satwa tersebut secara berkelanjutan,” kata Kapolsek Teluk Meranti, Ipda Bobby Even, Rabu (21/1/2026).
Berdasarkan hasil rapat koordinasi di Kantor Desa Pulau Muda, diketahui bahwa kemunculan Harimau Sumatera bukanlah kejadian tunggal.
Dalam sebulan terakhir, satwa bernama latin Panthera tigris sumatrae itu dilaporkan beberapa kali melintas di sekitar pemukiman, khususnya di Dusun I Desa Pulau Muda.
Kondisi tersebut memicu keresahan warga karena lokasi kemunculan harimau berada di jalur aktivitas masyarakat dan dekat dengan fasilitas umum.
“Masyarakat mendesak agar harimau segera dievakuasi karena sudah mengganggu rasa aman warga dan pengguna jalan," ujarnya.
Hasil peninjauan lapangan menunjukkan jarak lokasi kemunculan harimau hanya sekitar 200 meter dari rumah penduduk dan sekolah, serta berada di tepi jalan lintas desa.
Pihak PT Arara Abadi Distrik Merawang, yang ikut dalam patroli lapangan, melaporkan sempat melihat dua ekor anak harimau berusia sekitar empat bulan saat patroli malam pada 18 Januari 2026. Namun, induk harimau tidak terpantau di lokasi yang sama.
“Ada kemungkinan anak harimau sempat terpisah dari induknya. Saat ini tim masih menetap di desa untuk melakukan mitigasi lanjutan," jelasnya.
Sementara itu, Kepala BBKSDA Riau, Supartono menegaskan, hasil pemantauan mengindikasikan lebih dari satu individu harimau berada di wilayah tersebut.
“Kami menduga yang muncul adalah satu kelompok keluarga, induk dengan anak berusia 4 hingga 5 bulan. Pada usia itu, anak harimau masih sangat bergantung pada induknya,” ungkapnya.
Saat ini, tim gabungan yang terdiri dari BKSDA, TNI, Polri, pihak PBPH, serta masyarakat setempat terus melakukan pemantauan intensif.
Strategi utama adalah menggiring pergerakan harimau agar menjauh dari pemukiman dan kembali ke kawasan hutan yang lebih aman.
Selain itu, BBKSDA Riau juga meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat agar tidak memicu kepanikan.
“Kami mengimbau warga tidak merekam atau menyebarkan video harimau, tetap waspada saat fajar dan senja, serta mengamankan ternak,” tukasnya.
Sebagai langkah antisipasi, box trap telah disiagakan di Kantor Resort Kerumutan. Tim akan tetap berada di lokasi hingga situasi dinyatakan aman bagi masyarakat dan satwa dilindungi tersebut.