JAKARTA - Sejarah Islam mencatat Abdullah bin Salam sebagai sosok unik dalam barisan sahabat Nabi Muhammad.
Ia bukan hanya dikenal karena kejujuran dan kedalaman ilmunya, tetapi juga karena keberaniannya mengikuti kebenaran meski harus berhadapan dengan komunitasnya sendiri.
Perjalanan spiritualnya menjadi bukti bahwa hidayah dapat hadir melalui pencarian ilmu yang jujur dan akhlak Rasulullah.
Abdullah bin Salam, yang sebelum Islam bernama al-Hushain bin Salam bin al-Harits, merupakan seorang rabi Yahudi terkemuka di Madinah.
Ia berasal dari keturunan Nabi Yusuf AS dan memiliki otoritas keilmuan yang kuat dalam kitab Taurat.
Kedudukannya sebagai pemimpin agama membuat pendapatnya dihormati kaumnya.
Dalam Ensiklopedia Biografi Sahabat Nabi karya Muhammad Raji Hassan, disebutkan bahwa Abdullah bin Salam telah lama menemukan isyarat tentang akan datangnya nabi terakhir dalam kajian Taurat yang ia dalami dan ajarkan di Sinagog.
Isyarat tersebut perlahan menumbuhkan kegelisahan batin, terutama ketika kabar tentang Nabi Muhammad mulai tersebar.
Ketertarikan Abdullah bin Salam terhadap risalah Islam tidak lahir secara emosional, melainkan melalui proses verifikasi ilmiah.
Ia mengumpulkan informasi tentang Nabi Muhammad, mulai dari nasab, akhlak, waktu kemunculan, hingga tempat dakwah, lalu mencocokkannya dengan nash Taurat.
Hasilnya semakin menguatkan keyakinannya bahwa Muhammad adalah nabi yang dijanjikan.
Momentum penentuan itu datang saat Rasulullah hijrah ke Madinah. Abdullah bin Salam menyaksikan langsung sosok Nabi dan mendengarkan ucapan pertamanya.
Dalam Siyar A’lam an-Nubala karya Imam Dzahabi, dikisahkan bahwa kalimat awal Rasulullah sangat membekas di hati Abdullah bin Salam.
“Wahai manusia, sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturahmi, dan salatlah di malam hari saat manusia tertidur, niscaya kalian masuk surga dengan selamat.”
Ucapan tersebut menjadi kesaksian batin bahwa Rasulullah bukanlah pendusta.
Namun Abdullah bin Salam masih melakukan satu langkah terakhir, menguji kebenaran kenabian Muhammad dengan pertanyaan yang hanya diketahui para nabi.
“Aku akan bertanya kepadamu tentang tiga hal yang tidak diketahui kecuali oleh seorang nabi,” ujar Abdullah bin Salam kepada Rasulullah.
Ia lalu mengajukan pertanyaan tentang tanda awal Hari Kiamat, makanan pertama penghuni surga, dan sebab kemiripan fisik anak dengan orangtuanya.
Rasulullah menjawab dengan tegas:
“Jibril baru saja memberitahuku tentang jawaban-jawabannya.”
Rasulullah kemudian menjelaskan,
“Tanda pertama Hari Akhir adalah munculnya api yang mengumpulkan manusia dari Timur dan Barat. Makanan pertama penghuni surga adalah hati ikan. Adapun kemiripan anak, jika air mani laki-laki mendahului maka anak mirip ayahnya, dan jika air mani perempuan mendahului maka anak mirip ibunya.”
Jawaban tersebut sepenuhnya sesuai dengan pengetahuan Abdullah bin Salam dalam Taurat.
Tanpa ragu, ia mengucapkan syahadat dan memeluk Islam di hadapan Rasulullah.
Sejak saat itu, Nabi Muhammad memberinya nama baru, Abdullah, sebagai simbol kelahiran iman yang baru.
Keputusan tersebut menimbulkan reaksi keras dari kaumnya. Abdullah bin Salam dituduh berkhianat, dihina, dan dicela.
Namun ia tetap teguh. Sikapnya mencerminkan integritas seorang pencari kebenaran yang berani membayar harga sosial demi iman.
Kisah Abdullah bin Salam menjadi teladan lintas zaman tentang pentingnya kejujuran intelektual, keberanian moral, dan ketulusan dalam menerima kebenaran, sekalipun bertentangan dengan tradisi dan tekanan lingkungan.