JAKARTA - Anggapan bahwa kelimpahan harta merupakan bukti cinta Allah masih mengakar kuat di tengah masyarakat. Padahal, Rasulullah secara tegas meluruskan persepsi tersebut.
Dalam sabda Nabi yang diriwayatkan Sayyidina Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu anhu, dijelaskan bahwa kekayaan dunia tidak selalu berbanding lurus dengan kedudukan seorang hamba di sisi Allah.
Rasulullah justru menegaskan bahwa iman adalah indikator utama kasih sayang Allah, sementara urusan dunia bisa diberikan kepada siapa saja, baik kepada hamba yang dicintai maupun yang dibenci-Nya.
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah memberikan dunia kepada orang yang dicintai-Nya maupun kepada orang yang dibenci-Nya. Namun apabila Dia mencintai seorang hamba, Dia akan menganugerahinya iman,” sabda Rasulullah.
Dua Ancaman Besar Umat: Hawa Nafsu dan Panjang Angan-Angan
Dalam riwayat yang sama, Rasulullah juga mengingatkan dua perkara besar yang paling dikhawatirkan menjerumuskan umatnya, yakni mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan terhadap dunia.
“Sesungguhnya perkara yang paling aku khawatirkan atas kalian ada dua, yaitu mengikuti hawa nafsu dan panjang angan-angan. Mengikuti hawa nafsu menghalangi dari kebenaran, sedangkan panjang angan-angan menumbuhkan kecintaan kepada dunia," sabda Rasulullah.
Peringatan ini menegaskan bahwa keterikatan berlebihan pada dunia bukan hanya menjauhkan manusia dari kebenaran, tetapi juga mengikis orientasi akhirat.
Anak Dunia atau Anak Agama?
Rasulullah menggambarkan realitas kehidupan dengan bahasa yang sangat tegas. Dunia dan agama sama-sama memiliki 'pengikut'. Namun, manusia diminta menentukan keberpihakannya.
“Ketahuilah, sesungguhnya agama memiliki anak-anak (para pengikut) dan dunia pun memiliki anak-anak (para pengikut). Maka jadilah kalian termasuk anak-anak agama dan janganlah menjadi anak-anak dunia,” tegas Rasulullah.
Pesan ini sekaligus menjadi kritik keras terhadap gaya hidup yang menjadikan materi sebagai tujuan utama, bukan sekadar sarana.
Dunia Menjauh, Akhirat Mendekat
Dalam penutup sabdanya, Rasulullah mengingatkan tentang waktu yang terus berjalan dan kesempatan yang semakin sempit.
“Ketahuilah, sesungguhnya dunia telah pergi dengan membelakangi, dan akhirat sedang datang dengan mendatangi. Ingatlah dirimu pada hari beramal tanpa perhitungan. Dan ingatlah hampir-hampir kamu berada pada hari perhitungan yang tidak ada lagi kesempatan beramal,” (HR Imam Ibnu Abi ad-Dunya).
Pesan ini menegaskan urgensi memanfaatkan hidup di dunia sebagai ladang amal, sebelum memasuki fase hisab yang tak lagi memberi ruang perbaikan.
Penegasan Imam Al-Ghazali
Pemikiran ini dipertegas oleh Imam Al-Ghazali dalam karya monumentalnya Ihya Ulumuddin.
Ulama besar bergelar Hujjatul Islam itu menjelaskan bahwa tanda cinta Allah kepada seorang hamba bukan terletak pada kekayaan atau kelapangan hidup, melainkan pada iman yang kokoh dalam hati.
Dengan mengutip sabda Rasulullah yang diriwayatkan Sayyidina Ali bin Abu Thalib, Imam Al-Ghazali menegaskan bahwa dunia hanyalah ujian, bukan ukuran kemuliaan.
Kekayaan, jabatan, dan kenyamanan hidup bukanlah tolok ukur cinta Allah. Dunia bisa diberikan kepada siapa saja. Imanlah yang menjadi tanda istimewa kasih sayang Allah kepada hamba-Nya, sekaligus bekal utama menuju keselamatan akhirat.
Wallahu 'Alam.