KEPULAUAN MERANTI – Tradisi tahunan Perang Air Cian Cui kembali mengguyur Kota Selatpanjang dengan semarak kebersamaan. Ribuan warga tumpah ruah di sepanjang Jalan Merdeka, Kelurahan Selatpanjang Kota, Kecamatan Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Selasa (17/2) sore, untuk merayakan festival budaya yang telah menjadi agenda wisata unggulan daerah.
Sejak sore hari, pusat kota berubah menjadi lautan keceriaan. Air bertebaran dari ember dan pistol mainan yang digunakan warga untuk saling menyiram. Dalam tradisi ini, tidak ada yang luput dari siraman—baik masyarakat umum maupun pejabat daerah—sebagai simbol kegembiraan, persaudaraan, dan kesetaraan.
Festival yang ditetapkan sebagai agenda resmi Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti sejak 2013 tersebut merupakan warisan budaya masyarakat keturunan Tionghoa dalam rangka menyambut Tahun Baru Imlek 2577. Seiring waktu, Perang Air Cian Cui berkembang menjadi perayaan lintas budaya yang melibatkan berbagai suku dan etnis di Meranti.
Peserta terlihat berkonvoi menggunakan becak motor menyusuri jalan utama kota. Sementara warga lainnya berbaris di tepi jalan, bersiap menyambut rombongan dengan siraman air. Suasana pun dipenuhi tawa dan sorak sorai, menciptakan momen kebersamaan yang khas setiap tahunnya.
Bupati Kepulauan Meranti, Kombes Pol (Purn) Asmar, saat membuka kegiatan menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar hiburan rakyat, tetapi juga bagian dari strategi pemerintah daerah dalam mengangkat tradisi lokal sebagai ikon pariwisata.
Menurutnya, Perang Air Cian Cui telah masuk dalam Karisma Event Nusantara (KEN) sebagai agenda pariwisata nasional. Hal itu menjadi bukti bahwa tradisi lokal mampu bersaing dan menarik perhatian di tingkat nasional.
“Kami berharap festival ini menjadi momentum mempererat persatuan lintas suku dan agama, terlebih perayaan Imlek tahun ini berdekatan dengan bulan suci Ramadan. Kami juga mengimbau masyarakat tetap menjaga ketertiban dan kebersihan selama kegiatan berlangsung,” ujar Asmar.
Di akhir sambutannya, Bupati memberikan kehormatan kepada Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan, untuk secara resmi melepas rombongan peserta festival.
Dalam sambutannya, Kapolda Riau menekankan pentingnya pelestarian budaya yang berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan. Ia mengingatkan bahwa wilayah pesisir Meranti dikelilingi ekosistem mangrove yang berperan sebagai benteng alami kawasan pantai.
Herry juga memperkenalkan program Green Policing sebagai komitmen kepolisian dalam menjaga keamanan sekaligus melindungi lingkungan hidup. Ia mengajak masyarakat menjadi garda terdepan dalam merawat budaya serta menjaga ekosistem daerah.
“Festival Cian Cui mencerminkan kekuatan tradisi dalam menyatukan masyarakat melalui harmoni kehidupan yang selaras dengan alam dan semangat gotong royong,” ujarnya.(*)