PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera terpantau mulai meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat total 53 hotspot terdeteksi pada Selasa (13/1/2026), tersebar di delapan provinsi, termasuk Provinsi Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Bella R Adelia menyebutkan, sebaran hotspot tersebut perlu menjadi perhatian serius, terutama di wilayah dengan karakter lahan gambut dan vegetasi mudah terbakar.
“Hari ini terpantau sebanyak 53 titik panas di wilayah Sumatera. Titik terbanyak berada di Provinsi Jambi dengan 15 hotspot, disusul Bengkulu 11 titik dan Aceh 9 titik,” ujarnya.
Selain Jambi, Bengkulu, dan Aceh, hotspot juga terpantau di Sumatera Utara sebanyak 6 titik, Sumatera Barat 4 titik, Lampung 3 titik, Sumatera Selatan 2 titik, serta Riau sebanyak 3 titik.
Untuk wilayah Riau, sebaran hotspot terdeteksi masing-masing di Kota Dumai, Kabupaten Kepulauan Meranti, dan Kabupaten Rohil.
BMKG menilai kemunculan hotspot ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun sebagian wilayah Sumatera masih mengalami hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.
“Hotspot tidak selalu berarti terjadi kebakaran besar, namun ini merupakan sinyal awal yang harus diantisipasi oleh pemerintah daerah dan masyarakat,” tegasnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat terkait, serta masyarakat untuk meningkatkan patroli terpadu, khususnya di wilayah rawan karhutla.
Masyarakat juga diminta tidak melakukan pembakaran lahan dengan alasan apa pun, mengingat dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan dan transportasi.