PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera terpantau masih tinggi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 267 titik panas tersebar di sejumlah provinsi hingga Minggu (25/1/2026) sore, dengan Provinsi Riau masuk lima besar wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Prakirawan BMKG Pekanbaru, Putri Santy menyampaikan, sebaran hotspot tersebut menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan lahan gambut dan aktivitas pembukaan lahan.
“Berdasarkan pemantauan satelit hari ini, total hotspot di wilayah Sumatera tercatat 267 titik. Riau menyumbang 47 titik dan perlu menjadi perhatian bersama,” ujarnya.
BMKG merincikan, titik panas terbanyak terpantau di Lampung 76 titik, Aceh 56 titik, Riau 47 titik, Sumatera Barat 32 titik, Sumatera Utara 17 titik, Bengkulu 16 titik, Sumatera Selatan 13 titik, Jambi 6 titik dan Bangka Belitung 4 titik
Di Provinsi Riau, sebaran hotspot terpantau hampir merata, dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah rawan karhutla.
Sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Inhil 18 titik, Kabupaten Pelalawan 16 titik, Kabupaten Bengkalis 6 titik, Kabupaten Kampar 2 titik, Kabupaten Rohul 2 titik, Kota Dumai 2 titik dan Kabupaten Kepulauan Meranti 1 titik
Menurut BMKG, kemunculan hotspot di awal tahun menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.
“Meski belum seluruhnya terkonfirmasi sebagai kebakaran, hotspot adalah peringatan dini. Langkah pencegahan harus dilakukan sedini mungkin, terutama di wilayah gambut,” pungkasnya.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan aktif melaporkan indikasi kebakaran.
Penguatan patroli terpadu dan kesiapsiagaan Masyarakat Peduli Api (MPA) dinilai krusial guna menekan potensi karhutla yang dapat berdampak pada kualitas udara dan kesehatan.