PEKANBARU - Tren peningkatan titik panas (hotspot) kembali terpantau signifikan di Pulau Sumatera. Data terbaru Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 433 hotspot tersebar di delapan provinsi pada Rabu (28/1/2026).
Kondisi ini menjadi sinyal awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah rawan seperti Provinsi Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir menyampaikan, lonjakan hotspot didominasi wilayah Sumatera bagian utara dan barat.
Provinsi Aceh tercatat sebagai penyumbang terbanyak dengan 259 titik panas, disusul Sumatera Barat 49 titik dan Sumatera Utara 43 titik.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 433 titik. Angka ini perlu diwaspadai karena sebagian berada di wilayah dengan karakter lahan gambut dan vegetasi kering,” ujarnya.
Rincian sebaran titik panas di Pulau Sumatera meliputi Aceh 259 titik, Sumatera Barat 49 titik, Sumatera Utara 43 titik, Bengkulu 15 titik, Lampung 14 titik, Kepulauan Riau 5 titik, Kepulauan Bangka Belitung 1 titik dan Sumatera Selatan 1 titik.
Sementara itu, Provinsi Riau tercatat memiliki 46 hotspot, dengan sebaran tertinggi berada di wilayah pesisir dan lahan gambut. Kabupaten Indragiri Hilir menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak.
Rincian sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Indragiri Hilir 20 titik, Kabupaten Bengkalis 13 titik, Kabupaten Pelalawan 7 titik, Kabupaten Rokan Hilir 4 titik, Kabupaten Rokan Hulu 1 titik dan Kabupaten Kepulauan Meranti 1 titik
BMKG menilai, pola ini menunjukkan adanya peningkatan potensi karhutla skala lokal jika tidak diantisipasi sejak dini, terutama di wilayah dengan riwayat kebakaran berulang.
“Wilayah dengan hotspot tinggi perlu meningkatkan kesiapsiagaan, terutama pengawasan lapangan dan patroli terpadu,” pungkasnya.