PEKANBARU - Aktivitas titik panas (hotspot) di wilayah Sumatera kembali meningkat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat total 160 hotspot terdeteksi pada Senin (2/2/2026), dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Kepulauan Riau dan Riau.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Deby mengatakan, lonjakan hotspot ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di wilayah dengan dominasi lahan gambut.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 160 titik. Konsentrasi tertinggi berada di Kepulauan Riau sebanyak 49 titik dan Riau 40 titik,” ujarnya.
Berdasarkan pemantauan BMKG, rincian sebaran hotspot di Pulau Sumatera meliputi Aceh 26 titik, Jambi 13 titik, Sumatera Barat 2 titik dan Sumatera Selatan 1 titik.
Kemudian Sumatera Utara 14 titik, Kepulauan Riau 49 titik, Bangka Belitung 15 titik dan Riau 40 titik.
Di Provinsi Riau, hotspot terdeteksi hampir merata di sejumlah kabupaten dan kota, yakni Kabupaten Indragiri Hilir 12 titik, Kabupaten Pelalawan 11 titik dan Kabupaten Bengkalis 7 titik.
Kemudian, di Kabupaten Kepulauan Meranti 5 titik, Kabupaten Siak 2 titik, Kota Dumai 2 titik, serta Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik.
BMKG mengingatkan pemerintah daerah, aparat, serta masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama di wilayah rawan kebakaran yang memiliki tutupan lahan gambut dan aktivitas pembukaan lahan.
“Hotspot merupakan indikator awal. Diperlukan respons cepat lintas sektor agar tidak berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan yang meluas,” tegasnya.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran di lingkungan sekitar.