PEKANBARU - Provinsi Riau kembali menjadi wilayah dengan jumlah titik panas (hotspot) terbanyak di Pulau Sumatera.
Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat, dari total 390 hotspot yang terdeteksi di Sumatera pada Kamis (12/2/2026), sebanyak 275 titik berada di Riau.
Dominasi hotspot tersebut menegaskan tingginya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah ini, terutama di daerah dengan lahan gambut yang rentan terbakar saat cuaca kering.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Putri Santy menjelaskan, sebaran hotspot Sumatera hari ini terkonsentrasi di beberapa provinsi, dengan Riau menempati posisi teratas secara signifikan.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini mencapai 390 titik. Provinsi Riau menyumbang 275 titik, jumlah tertinggi dibandingkan wilayah lainnya,” ujarnya.
Di Riau, hotspot paling banyak terpantau di Kabupaten Bengkalis dengan 155 titik, disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak 60 titik, dan Kabupaten Indragiri Hilir dengan 34 titik.
Selanjutnya, di Kabupaten Rokan Hilir 11 titik, Kabupaten Siak 4 titik, Kabupaten Kampar 2 titik, Kabupaten Kuantan Singingi 2 titik, Kabupaten Rokan Hulu 1 titik, Kota Dumai 6 titik.
Sementara itu, provinsi lain di Sumatera mencatat jumlah hotspot yang relatif lebih rendah, antara lain Sumatera Selatan 21 titik dan Jambi 18 titik.
Kemudian, Sumatera Barat dan Bangka Belitung masing-masing 14 titik, Sumatera Utara 11 titik, Kepulauan Riau 31 titik, serta Aceh dan Bengkulu masing-masing 3 titik.
BMKG menegaskan, peningkatan hotspot perlu menjadi perhatian serius seluruh pemangku kepentingan, terutama pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat.
“Hotspot merupakan indikator awal potensi kebakaran. Diperlukan langkah cepat pencegahan agar tidak berkembang menjadi karhutla yang meluas,” tegas Putri Santy.
BMKG juga mengimbau agar aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar dihentikan sepenuhnya, mengingat dampaknya yang luas terhadap kesehatan, transportasi, dan lingkungan.