PEKANBARU – Aroma asap mulai tercium di sejumlah sudut Kota Pekanbaru, Sabtu (14/2/2026). Meski Indeks Standar Pencemaran Udara (ISPU) menunjukkan kategori “Baik”, warga mengaku merasakan dampak langsung berupa bau menyengat dan iritasi ringan pada mata saat beraktivitas di luar ruangan.
Fenomena ini muncul seiring meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Riau dalam beberapa hari terakhir.
Kabupaten Pelalawan sebelumnya disebut sebagai daerah dengan sebaran hotspot terbanyak, bahkan ditemukan beberapa titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Berdasarkan pembaruan aplikasi ISPUnet KLHK pukul 12.00 WIB, kualitas udara di Pekanbaru berada pada level 21 ISPU PM2.5 dengan kategori “Baik”.
“Tingkat kualitas udara yang sangat baik, tidak memberikan efek negatif terhadap manusia, hewan dan tumbuhan,” demikian keterangan dalam aplikasi tersebut.
Namun di lapangan, kondisi terasa berbeda. Di kawasan Kecamatan Tampan, terutama sepanjang Jalan HR Soebrantas (Panam), bau asap tercium cukup pekat meski tidak disertai kabut tebal.
“Iya, bau asap karhutla. Mata juga agak perih kalau lagi berkendara,” ujar Aldi, warga Jalan Beringin, Air Hitam, Pekanbaru.
Keluhan serupa disampaikan Fadlan, mahasiswa asal Kampar. Ia mengaku aroma asap sudah tercium sejak pagi.
“Sudah dari pagi tadi terasa baunya, napas sesak. Ke mana-mana pakai masker lagi,” katanya.
Perbedaan antara data ISPU dan persepsi warga ini memunculkan pertanyaan mengenai dinamika sebaran asap yang bisa berubah cepat akibat arah angin dan kondisi atmosfer lokal.
Data satelit dari BMKG Stasiun Pekanbaru mencatat 29 titik panas tersebar di Provinsi Riau pada hari yang sama.
Sebaran hotspot didominasi Kabupaten Bengkalis dengan 25 titik. Sementara itu, Kabupaten Kepulauan Meranti dan Kota Dumai masing-masing terdeteksi satu titik, serta Kabupaten Siak dua titik.
Lonjakan hotspot ini memperkuat kewaspadaan terhadap potensi meluasnya karhutla, terutama memasuki periode cuaca relatif kering di beberapa wilayah.
Meski level ISPU masih dalam kategori aman, bau asap yang mulai dirasakan menjadi sinyal awal potensi penurunan kualitas udara jika hotspot terus bertambah dan tidak segera dikendalikan.