PEKANBARU - Strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau kini tidak lagi hanya bertumpu pada pemadaman darat.
Pemprov Riau mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah taktis mempercepat turunnya hujan di wilayah rawan terbakar.
Hingga Senin (23/2/2026), operasi tersebut telah dilaksanakan sebanyak 12 sorti penerbangan dengan total 12 ton garam (NaCl) disemai di titik-titik potensial pembentukan awan.
Kabid Kedaruratan BPBD Damkar Riau, Jim Gafur menyatakan, OMC masih berlanjut di Riau dan akan diperkuat di daerah prioritas.
“OMC sudah 12 sorti, total 12 ton garam sudah disemai. Hari ini dijadwalkan satu sorti lagi untuk wilayah Rohil,” ujarnya.
Menurut Jim, penyemaian garam dilakukan untuk merangsang pertumbuhan awan agar hujan dapat segera turun, terutama di kawasan gambut yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap kebakaran.
“Kami berharap upaya ini dapat menurunkan hujan dan membasahi lahan di Riau, khususnya lahan gambut yang rawan terbakar sehingga kebakaran lahan dapat kita cegah,” tegasnya.
Di tengah operasi udara yang terus digencarkan, penanganan di darat juga masih berlangsung.
Berdasarkan laporan BPBD Riau, saat ini terdapat dua wilayah yang masih dilanda karhutla, yakni Kelurahan Bagan Keladi, Kecamatan Dumai Barat, Kota Dumai, dan Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar.
Tim gabungan fokus melakukan pemadaman dan pendinginan untuk memastikan tidak ada bara api tersisa yang berpotensi memicu kebakaran ulang.
“Tim masih melakukan pemadaman dan pendinginan di Kelurahan Bagan Keladi, Dumai Barat dan di Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kampar. Ini untuk memastikan tidak ada bara yang bisa memicu kebakaran kembali,” jelasnya.
Data terbaru BPBD Damkar Riau menunjukkan total luas lahan terbakar sejak Januari 2026 telah mencapai 1.041,74 hektare yang tersebar di 11 kabupaten/kota.
“Hingga saat ini sudah 11 daerah di Riau yang ditemukan terjadi karhutla. Total luasan mencapai 1.041,74 hektare,” ungkapnya.
Kabupaten Pelalawan menjadi wilayah dengan luasan kebakaran terbesar, yakni 612,30 hektare. Disusul Bengkalis 201,01 hektare, Inhil 64,70 hektare, dan Siak 63,53 hektare.
Sementara itu, Dumai tercatat 30,52 hektare, Kampar 29,50 hektare, Pekanbaru 14,08 hektare, Kepulauan Meranti 13,40 hektare, Rohil 10 hektare, Kuansing 1,50 hektare, dan Inhu 1,20 hektare.
Melihat tren tersebut, Pemprov Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla guna memperkuat koordinasi lintas sektor.
Penanganan karhutla melibatkan berbagai unsur, mulai dari BPBD kabupaten/kota, TNI-Polri, Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, hingga perusahaan di sekitar wilayah terdampak.
Strategi kombinasi antara pemadaman darat dan intervensi cuaca melalui OMC diharapkan mampu menekan laju pertambahan luas kebakaran dalam beberapa pekan ke depan, terutama menjelang puncak musim kering.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa perang melawan karhutla di Riau kini bergerak lebih sistematis, menggabungkan teknologi, koordinasi lintas lembaga, dan status siaga darurat sebagai payung kebijakan percepatan respons di lapangan.