PEKANBARU – Jumlah titik panas di Pulau Sumatera kembali menjadi perhatian. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), total terdeteksi 43 hotspot pada Jumat (27/2/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Gita Dewi, mengungkapkan bahwa Riau termasuk wilayah dengan kontribusi signifikan.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 43 titik,” ujar Gita Dewi.
Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 14 titik panas atau menjadi salah satu daerah dengan angka tertinggi di Sumatera.
Secara rinci, distribusi titik panas di sejumlah provinsi yakni, Aceh 1 titik, Kepulauan Riau 3 titik, Bengkulu 2 titik, Sumatera Selatan 15 titik, Bangka Belitung 8 titik dan Riau 14 titik.
Sumatera Selatan tercatat sebagai wilayah dengan hotspot terbanyak, disusul Riau dan Bangka Belitung.
Khusus di Riau, sebaran titik panas terkonsentrasi di beberapa kabupaten. Kabupaten Bengkalis mendominasi dengan 11 titik panas.
Dengan rincian, Kabupaten Bengkalis 11 titik, Kabupaten Pelalawan 2 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik.
Kondisi ini menempatkan Bengkalis sebagai wilayah paling rawan berdasarkan pantauan satelit hari ini.
Gita Dewi menegaskan bahwa data hotspot merupakan indikator awal yang perlu diwaspadai.
“Hotspot yang terdeteksi satelit menjadi sinyal potensi kebakaran hutan dan lahan, meski masih perlu verifikasi lapangan,” jelasnya.
Meningkatnya jumlah titik panas, khususnya di wilayah pesisir dan lahan gambut seperti Bengkalis, menjadi sinyal kewaspadaan dini terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pemantauan intensif dan koordinasi lintas sektor dinilai krusial untuk mencegah eskalasi menjadi kebakaran terbuka.
Terlebih, memasuki periode cuaca relatif kering, potensi penyebaran api bisa berlangsung cepat jika tidak ditangani sejak awal.
BMKG mengimbau pemangku kepentingan daerah untuk terus memonitor perkembangan hotspot melalui sistem pemantauan satelit secara berkala.