PEKANBARU – Pemerintah Republik Indonesia menggelar Apel Siaga Nasional Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Pangkalan TNI AU Roesmin Nurjadin, Pekanbaru, Riau.
Apel ini dipimpin oleh Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Djamari Chaniago didampingi Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni, PLT Gubernur Riau SF Hariyanto, Kepala BNPB Suharyanto serta dihadiri unsur pimpinan Pemerintah Provinsi Riau, TNI, Polri, dan berbagai pemangku kepentingan.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya nasional memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menghadapi potensi kebakaran hutan dan lahan menjelang musim kemarau 2026, sekaligus memastikan seluruh sumber daya siap bergerak cepat dalam upaya pencegahan dan pengendalian Karhutla.
“Apel kesiapsiagaan ini merupakan titik awal kesiapan kita untuk merawat kekayaan alam. Upaya ini tidak hanya untuk mencegah kerusakan alam akibat kebakaran hutan dan lahan, tetapi juga untuk meningkatkan kepercayaan dunia bahwa Indonesia mampu memelihara dan mengawasi sumber daya alam yang dianugerahkan Tuhan,” ujar Menko Polkam, Djamari Chaniago.
Ia juga menekankan bahwa pemerintah memberikan perhatian besar terhadap isu kebakaran hutan dan lahan yang memiliki dampak luas terhadap lingkungan dan masyarakat.
“Presiden juga memberikan perhatian yang sangat besar terhadap isu kebakaran hutan dan lahan yang dampaknya sangat luas. Karena itu kesiapsiagaan, mitigasi, dan pencegahan harus terus kita perkuat bersama,” tambahnya.
Langkah kesiapsiagaan ini juga didorong oleh perkembangan situasi di Provinsi Riau. Sejumlah daerah telah meningkatkan status kewaspadaan terhadap Karhutla seiring meningkatnya potensi kebakaran. Hingga awal Maret 2026, lima kabupaten di Riau telah menetapkan status siaga darurat Karhutla, yaitu Pelalawan, Indragiri Hilir, Bengkalis, Siak, dan Kampar, sebagai bagian dari langkah antisipasi untuk mencegah munculnya kabut asap pada musim kemarau.
Sebagai bagian dari dukungan sektor swasta terhadap upaya pemerintah tersebut, PT Arara Abadi, unit usaha APP Group, serta mitra pemasoknya turut berpartisipasi dalam apel siaga ini dengan menurunkan personel dan peralatan pemadam kebakaran. Keterlibatan perusahaan mencerminkan komitmen dunia usaha dalam mendukung upaya kolektif menjaga Provinsi Riau tetap bebas dari kabut asap.
Dalam apel ini, PT Arara Abadi menurunkan 100 personel pasukan inti yang terdiri dari Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Regu Pemadam Kebakaran (RPK), serta 22 personel pendukung dari fungsi operasional seperti Fire Operation Management (FOM), teknologi informasi, dan tim logistik.
Selain itu, perusahaan juga menyiagakan berbagai peralatan pemadaman seperti 16 unit mesin pompa air, 5 unit Sambunesia untuk pemadaman di lahan gambut, 92 roll selang pemadam, 27 unit breeching, serta 30 unit nozzle yang menjadi bagian dari kesiapan operasional menghadapi potensi kebakaran.
Dalam apel siaga ini, PT Arara Abadi juga menampilkan 1 unit airboat amfibi yang digunakan untuk mobilisasi tim di wilayah rawa dan lahan gambut, serta 1 unit helikopter water bombing jenis Kamov Ka-32 A11BC dengan registrasi PK-KIN yang memiliki kapasitas angkut air hingga 4.000 liter untuk mendukung pemadaman dari udara.
“Apel siaga ini merupakan simbol kesiapsiagaan bersama. Namun yang lebih penting adalah kerja nyata di lapangan melalui penguatan sistem pencegahan, pemantauan, dan respon cepat. Kami terus meningkatkan kesiapan personel, peralatan, serta integrasi teknologi pemantauan agar potensi kebakaran dapat dideteksi dan ditangani sejak dini,” ujar Fire Operation Management Head PT Arara Abadi, Richard.
Richard menjelaskan bahwa perusahaan bersama mitra pemasok APP Group menerapkan pendekatan Integrated Fire Management, yang mencakup strategi pencegahan, kesiapsiagaan, deteksi dini, dan respon cepat dalam pengendalian Karhutla.
Di wilayah Riau, kesiapsiagaan ini diperkuat melalui ribuan personel Regu Pemadam Kebakaran yang disiagakan oleh PT Arara Abadi bersama mitra pemasok APP Group, serta dukungan berbagai sarana operasional seperti kendaraan patroli darat dan air, menara pemantau api (fire tower), serta teknologi pemantauan berbasis drone dan thermal camera yang memungkinkan deteksi dini titik panas secara lebih cepat dan akurat.
Seluruh sistem pemantauan tersebut terintegrasi dengan Situation Room yang berfungsi sebagai pusat komando dan pengendalian operasi. Melalui fasilitas ini, tim operasional dapat memantau perkembangan hotspot secara real time, menganalisis potensi risiko kebakaran, serta mengoordinasikan respons lapangan secara cepat dan terukur apabila terdeteksi indikasi kebakaran. (rilis)