PEKANBARU – Sebaran titik panas (hotspot) kembali terpantau di sejumlah wilayah Pulau Sumatera pada Selasa (10/3/2026).
Data pemantauan satelit menunjukkan total 107 titik panas terdeteksi di berbagai provinsi, dengan konsentrasi tertinggi berada di Aceh.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengatakan, pemantauan dilakukan melalui satelit yang digunakan untuk mengidentifikasi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 107 titik yang tersebar di beberapa provinsi. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak,” katanya.
Berdasarkan data pemantauan BMKG, sebaran hotspot di Sumatera terdiri dari Aceh 58 titik, Sumatera Utara 14 titik, Kepulauan Riau 12 titik, Riau 16 titik, Sumatera Selatan 4 titik, Jambi 2 titik dan Bangka Belitung 1 titik.
Jumlah tersebut menunjukkan bahwa wilayah bagian utara Sumatera masih menjadi area dengan intensitas hotspot paling tinggi pada hari ini.
Sementara itu, di Provinsi Riau terpantau 16 titik panas yang tersebar di beberapa kabupaten/kota, yakni Kabupaten Indragiri Hilir 6 titik, Kabupaten Pelalawan 5 titik, Kabupaten Bengkalis 3 titik, Kota Dumai 2 titik.
Menurut Yasir, keberadaan hotspot menjadi indikator awal yang perlu diwaspadai karena berpotensi berkembang menjadi kebakaran hutan dan lahan apabila tidak segera ditangani.
“Hotspot merupakan indikasi awal adanya titik api di permukaan bumi yang terdeteksi satelit. Kondisi ini perlu diantisipasi untuk mencegah potensi karhutla,” jelasnya.
Pemantauan hotspot secara rutin menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mitigasi kebakaran hutan dan lahan, khususnya di wilayah Sumatera yang kerap menghadapi ancaman karhutla saat kondisi cuaca kering.
Data tersebut juga menjadi rujukan bagi pemerintah daerah, aparat penegak hukum, serta tim penanggulangan bencana untuk melakukan langkah antisipasi di lapangan.