PEKANBARU - Pascaperayaan Idulfitri 1447 Hijriah, jumlah titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Riau mengalami lonjakan signifikan dan mendominasi sebaran di Pulau Sumatera.
Data terbaru dari BMKG menunjukkan, Riau menyumbang mayoritas hotspot dengan angka yang jauh melampaui provinsi lain.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang mengungkapkan, total hotspot di seluruh Sumatera pada Selasa (24/3/2026) mencapai 547 titik. Dari jumlah tersebut, Riau menyumbang 433 titik panas.
“Total hotspot wilayah Sumatera hari ini mencapai 547 titik, dengan sebaran terbanyak berada di Riau,” ujarnya.
Jika dirinci, lonjakan hotspot di Riau tersebar di sejumlah kabupaten/kota dengan konsentrasi tertinggi berada di wilayah pesisir dan kawasan rawan karhutla.
Sebarannya, Bengkalis 194 titik, Pelalawan 106 titik, Dumai 94 titik, Siak 25 titik, Indragiri Hilir 9 titik, Meranti 2 titik, Kampar 1 titik, Kuantan Singingi 1 titik dan Rokan Hilir 1 titik.
Sementara itu, provinsi lain di Sumatera mencatat angka yang jauh lebih rendah, seperti Sumatera Utara 33 titik, Aceh 23 titik, dan Jambi 18 titik.
Tingginya jumlah hotspot ini menjadi indikator awal meningkatnya potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya di wilayah gambut yang rentan terbakar saat kondisi kering.
Meski demikian, BMKG belum merinci tingkat kepercayaan (confidence level) dari masing-masing titik panas tersebut, yang biasanya digunakan untuk menentukan apakah hotspot benar-benar merupakan indikasi kebakaran.
Lonjakan hotspot pasca-Lebaran ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan riwayat karhutla tinggi seperti Bengkalis dan Pelalawan.
Pemantauan intensif serta langkah mitigasi dini dinilai krusial untuk mencegah meluasnya kebakaran yang berpotensi menimbulkan kabut asap.