PEKANBARU – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menguat. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat lonjakan titik panas di Pulau Sumatera pada Jumat (27/3/2026), dengan Riau muncul sebagai wilayah paling dominan.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Indah menyebut, jumlah hotspot di Sumatera mencapai ratusan titik dalam satu hari pemantauan satelit.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau mencapai 492 titik, dengan konsentrasi terbesar berada di Provinsi Riau,” ujar Indah.
Berdasarkan pemantauan satelit, distribusi hotspot di Sumatera meliputi Aceh 58 titik, Sumatera Utara 70 titik, Sumatera Barat 38 titik, Kepulauan Riau 57 titik, Sumatera Selatan 13 titik, Bengkulu 10 titik, Bangka Belitung 11 titik, Jambi 11 titik dan Riau 224 titik.
Jumlah tersebut menempatkan Riau sebagai kontributor hampir setengah dari total hotspot Sumatera.
Di dalam Provinsi Riau, konsentrasi hotspot tidak merata. Dua daerah muncul sebagai wilayah paling rawan.
Rincian hotspot di Riau, meliputi Bengkalis 104 titik, Pelalawan 68 titik, Rokan Hilir 17 titik, Indragiri Hilir 16 titik, Kota Dumai 12 titik, Siak 4 titik, Kepulauan Meranti 2 titik dan Indragiri Hulu 1 titik.
Indah menegaskan tingginya angka ini menjadi sinyal kuat peningkatan potensi karhutla.
“Sebaran hotspot di Riau didominasi Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan, sehingga perlu kewaspadaan tinggi terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan,” jelasnya.
Lonjakan titik panas pada akhir Maret menjadi indikator awal meningkatnya risiko karhutla menjelang periode kemarau.
Kondisi ini biasanya berkaitan dengan berkurangnya curah hujan dan meningkatnya suhu permukaan lahan.
Konsentrasi hotspot di wilayah pesisir dan gambut seperti Bengkalis dan Pelalawan menambah kekhawatiran, mengingat daerah tersebut dikenal rentan terhadap kebakaran skala besar.
Data hotspot berperan penting sebagai sistem peringatan dini bagi pemerintah daerah dan tim penanggulangan bencana.
Informasi ini menjadi dasar untuk mempercepat patroli darat, pemantauan udara, hingga upaya pencegahan di wilayah rawan.
Dengan dominasi hotspot di Riau, koordinasi lintas sektor dinilai krusial untuk mencegah kebakaran meluas.