PEKANBARU – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika melalui BMKG Pekanbaru melaporkan lonjakan signifikan titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera pada Sabtu (28/3/2026). Dari total 350 hotspot, lebih dari separuhnya terdeteksi berada di Provinsi Riau.
Forecaster on duty BMKG Pekanbaru, Anggun menegaskan, dominasi hotspot di Riau perlu menjadi perhatian serius karena berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 350 titik, dengan sebaran terbanyak berada di Provinsi Riau,” ujar Anggun.
BMKG mencatat hotspot tersebar di sejumlah provinsi, yakni Aceh 4 titik, Sumatera Utara 37 titik, Sumatera Selatan 7 titik, Bengkulu 6 titik, Sumatera Barat 14 titik, Kepulauan Riau 52 titik, Bangka Belitung 5 titik, Jambi 11 titik dan Riau 213 titik.
Dominasi Riau mencapai sekitar 61 persen dari total hotspot Sumatera, menandakan wilayah ini berada dalam fase rawan karhutla.
Rincian hotspot di Riau menunjukkan konsentrasi tinggi pada beberapa wilayah, seperti Kabupaten Bengkalis 91 titik, Kabupaten Pelalawan 76 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 22 titik, Kota Dumai 11 titik, Kabupaten Indragiri Hulu 11 titik, Kabupaten Siak 1 titik dan Kabupaten Rokan Hilir 1 titik.
Bengkalis dan Pelalawan menjadi wilayah dengan hotspot paling dominan, memperlihatkan potensi kerawanan karhutla pada lahan gambut dan kawasan hutan.
Tingginya hotspot di Riau mengindikasikan kondisi lahan mulai mengering serta meningkatnya aktivitas pembukaan lahan.
Situasi ini berpotensi memicu kebakaran jika tidak diantisipasi sejak dini oleh pemerintah daerah dan masyarakat.
BMKG menilai pemantauan harian sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas serta menekan dampak kabut asap lintas wilayah.