PEKANBARU – Tren kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Pulau Sumatera menunjukkan sinyal positif. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pekanbaru mencatat jumlah titik panas pada Senin (30/3/2026) mengalami penurunan signifikan dibanding hari-hari sebelumnya.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengungkapkan, total hotspot di Sumatera kini tersisa 159 titik yang tersebar di sejumlah provinsi.
“Total hotspot wilayah Sumatera hari ini menurun signifikan, tersisa 159 titik,” ujar Yasir.
Penurunan ini menjadi indikator awal membaiknya kondisi cuaca sekaligus menurunnya potensi karhutla di beberapa wilayah yang sebelumnya rawan.
Berdasarkan pemantauan satelit, distribusi titik panas tersebar di delapan provinsi dengan rincian, Aceh 29 titik, Sumatera Utara 4 titik, Sumatera Selatan 1 titik dan Bengkulu 4 titik.
Kemudian, Sumatera Barat 2 titik, Kepulauan Riau 73 titik, Bangka Belitung 22 titik, Lampung 1 titik dan Riau 23 titik, yang tepatnya di Kabupaten Bengkalis.
Provinsi Kepulauan Riau masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul Aceh dan Bangka Belitung.
Untuk wilayah Riau, seluruh titik panas terdeteksi berada di Kabupaten Bengkalis. Kondisi ini membuat wilayah pesisir tersebut masih menjadi perhatian dalam upaya pencegahan karhutla.
“Untuk Riau terpantau 23 titik panas dan seluruhnya berada di Kabupaten Bengkalis,” jelas Yasir.
Meski jumlahnya relatif kecil dibanding periode sebelumnya, kewaspadaan tetap diperlukan mengingat potensi kebakaran dapat meningkat jika kondisi cuaca kembali kering.
Penurunan hotspot menjadi kabar baik bagi upaya pengendalian karhutla di Sumatera. Namun, pihak terkait tetap diminta menjaga kesiapsiagaan, terutama di wilayah yang masih terdeteksi titik panas.
Langkah mitigasi, patroli terpadu, serta sosialisasi kepada masyarakat dinilai penting agar tren penurunan ini dapat terus dipertahankan.