PEKANBARU – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Provinsi Riau. Kabupaten Bengkalis tercatat sebagai daerah dengan dampak terluas, disusul Kabupaten Pelalawan, Rokan Hilir, serta beberapa wilayah lainnya.
Hingga Minggu (5/4/2026), sedikitnya terdapat tiga titik api aktif yang masih dalam penanganan tim gabungan.
Di Kabupaten Pelalawan, kebakaran terpantau terjadi di Desa Pulau Muda, Kecamatan Teluk Meranti. Di lokasi tersebut, api masih menyala dan disertai kepulan asap.
Sementara di Kabupaten Bengkalis, titik kebakaran terdeteksi di Desa Titi Akar, Kecamatan Rupat Utara. Selain itu, api juga muncul di Desa Teluk Lancar (Kecamatan Bantan), Desa Sekodi, serta Desa Palkun di Kecamatan Bengkalis, dengan kondisi asap tebal masih menyelimuti area.
Kepala Bidang Kedaruratan BPBD Riau, Jim Ghafur, menyampaikan bahwa upaya penanganan terus dilakukan secara terpadu melalui jalur darat maupun udara.
“Saat ini kita terus melakukan penanganan secara maksimal, mulai dari pemadaman udara melalui water bombing, operasi modifikasi cuaca, hingga pengerahan personel gabungan di lapangan,” ujarnya.
Selain pemadaman, langkah pencegahan juga diperkuat guna menekan potensi perluasan kebakaran, khususnya di kawasan lahan gambut yang rentan terbakar.
Salah satu upaya yang dilakukan adalah pembangunan sekat bakar dan embung dengan bantuan alat berat, untuk membatasi pergerakan api.
Penanganan karhutla ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD provinsi dan kabupaten/kota, Manggala Agni, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA) serta warga setempat.
Dari sisi dukungan udara, dua unit helikopter patroli milik BNPB dan Kementerian Kehutanan telah dikerahkan untuk melakukan pemantauan intensif melalui puluhan sortie penerbangan.
Sementara itu, satu unit helikopter water bombing milik BNPB telah melakukan 19 sortie dengan total 884 kali pengeboman air, atau hampir 4 juta liter air yang dijatuhkan ke area kebakaran.
Upaya tambahan juga dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) menggunakan satu unit pesawat. Hingga kini, tercatat 14 sortie telah dilakukan dengan penyemaian sekitar 14.000 kilogram natrium klorida (NaCl) guna memicu hujan buatan di wilayah terdampak.
Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, mengingat kondisi cuaca yang kering berpotensi mempercepat penyebaran api.
“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran lahan, karena kondisi saat ini sangat rawan memicu kebakaran yang lebih luas,” tegasnya.