BAGANSIAPIAPI - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena El Nino akan melanda sejumlah wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Rokan Hilir, Riau.
Fenomena ini ditandai dengan naiknya suhu permukaan laut yang berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di daerah yang dikenal memiliki kawasan pesisir luas.
Menyikapi ancaman tersebut, Pemerintah Kabupaten Rokan Hilir segera menggelar Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) bersama Forkopimda dan instansi terkait pada Rabu (8/4) kemarin.
Rakorda yang diprakarsai oleh BPBD Rohil ini bertujuan menyusun langkah strategis menghadapi ancaman El Nino.
Kepala Pelaksana BPBD Rohil, Syafnurizal, menyebutkan siklus El Nino diperkirakan berlangsung dari April hingga September 2026.
"Kondisi ini bisa mengakibatkan kekeringan. Wilayah kita sangat rentan karhutla, maka deteksi dini harus dilakukan," ujarnya.
Pemerintah daerah bersama kepolisian, TNI, camat, hingga kepenghuluan diminta bersiap siaga menghadapi kemungkinan terburuk.
Sebelumnya, Pemkab Rokan Hilir telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak Februari hingga November 2026. Status tersebut diberlakukan agar seluruh pihak lebih waspada dan siap meningkatkan ke status tanggap darurat bila kasus karhutla meningkat.
Syafnurizal menegaskan, hingga kini wilayah Rokan Hilir masih nihil kasus karhutla, dan kondisi ini diharapkan dapat dipertahankan.
BPBD Rohil juga telah memetakan wilayah rawan karhutla, terutama di 14 kecamatan pesisir yang mencakup 50 kepenghuluan. Wilayah tersebut menjadi fokus pengawasan intensif agar kebakaran tidak terjadi.
Masyarakat diimbau tidak membuka lahan dengan cara membakar, karena tindakan itu berpotensi memperparah ancaman karhutla.
Wakil Bupati Rokan Hilir, Jhony Charles, turut mengingatkan camat dan datuk penghulu agar aktif menjaga wilayah masing-masing serta melibatkan perusahaan dalam upaya pencegahan karhutla.