PEKANBARU - Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Pekanbaru akan melaksanakan Sensus Ekonomi 2026 sebagai bagian dari agenda nasional yang digelar setiap sepuluh tahun. Kegiatan ini bertujuan memperoleh gambaran menyeluruh mengenai kondisi dan perkembangan sektor ekonomi di daerah.
Penanggung jawab Sensus Ekonomi 2026 BPS Kota Pekanbaru, Desi Darmayanti, menyampaikan bahwa pelaksanaan sensus dijadwalkan berlangsung mulai Mei hingga Agustus 2026 dengan tahapan pendataan yang disesuaikan berdasarkan skala usaha.
“Sensus ekonomi ini merupakan agenda nasional yang dilaksanakan setiap sepuluh tahun untuk mengetahui kondisi ekonomi secara menyeluruh,” ujarnya, Selasa (21/4/2026).
Ia menjelaskan, pada tahap awal Mei hingga Juni, pendataan difokuskan pada usaha berskala besar. Selanjutnya, pada periode Juni hingga Agustus, pendataan dilanjutkan untuk sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), termasuk usaha rumah tangga.
“Seluruh sektor usaha akan didata, mulai dari usaha kecil di lingkungan permukiman hingga perusahaan besar,” jelasnya.
Menurut Desi, sensus ini memiliki peran strategis dalam memberikan gambaran utuh kepada pemerintah terkait kondisi ekonomi, termasuk aspek penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan di berbagai sektor.
“Hasil sensus akan menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan ekonomi ke depan,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (ASITA) Riau, Dede Firmansyah, menyatakan dukungan penuh terhadap pelaksanaan sensus tersebut. Ia mengimbau para pelaku usaha untuk berpartisipasi aktif dalam memberikan data yang dibutuhkan.
“Kami mendukung penuh sensus ekonomi ini dan mengajak pelaku usaha untuk tidak ragu memberikan data,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa data yang dihimpun bersifat rahasia dan tidak akan dipublikasikan secara rinci, melainkan digunakan untuk kepentingan statistik dan perencanaan pembangunan nasional.
“Data ini dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kebutuhan statistik,” tegasnya.
Menurutnya, hasil sensus ekonomi juga dapat dimanfaatkan pelaku usaha sebagai acuan dalam melihat perkembangan sektor, termasuk pariwisata dan perjalanan.
“Hasilnya bisa menjadi rujukan bagi kami untuk melihat kondisi dan perkembangan usaha di daerah,” jelasnya.
Kedua pihak berharap seluruh pelaku usaha, baik skala mikro maupun besar, dapat berpartisipasi aktif agar data yang dihasilkan akurat dan mampu mendukung perencanaan pembangunan ekonomi yang lebih tepat sasaran.
“Kami berharap partisipasi penuh dari pelaku usaha agar data yang dihasilkan benar-benar akurat dan bermanfaat,” tutupnya.(*)