PEKANBARU – Jumlah titik panas (hotspot) di beberapa provinsi di wilayah Sumatera pada Rabu (22/4/2026) terpantau sebanyak 32 titik.
Data ini menjadi sinyal penting bagi pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama memasuki periode cuaca kering di sejumlah wilayah.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Sanya menyebutkan, sebaran hotspot tersebar di beberapa provinsi dengan dominasi di Sumatera Selatan.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 32 titik,” ujar Sanya.
Berdasarkan pemantauan satelit, distribusi hotspot tersebar di Aceh (NAD) 1 titik, Jambi 8 titik, Sumatera Selatan 20 titik dan Riau 3 titik.
Khusus Provinsi Riau, tiga titik panas terdeteksi berada di Kabupaten Rokan Hilir 1 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik dan Kota Pekanbaru 1 titik.
Meskipun jumlah hotspot di Riau tergolong rendah dibanding provinsi lain, kemunculan titik panas tetap menjadi indikator awal potensi karhutla yang harus diantisipasi secara serius.
Hotspot sendiri merupakan indikator awal yang dideteksi melalui sensor satelit untuk mengidentifikasi area yang memiliki suhu permukaan tinggi, yang berpotensi menjadi kebakaran hutan dan lahan.
Dengan kondisi cuaca yang mulai cenderung panas di sebagian wilayah Sumatera, koordinasi lintas instansi menjadi krusial untuk memastikan pencegahan kebakaran dilakukan sejak dini.