PEKANBARU — Aktivitas titik panas di Pulau Sumatera kembali terpantau oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Hingga Kamis (23/4/2026), jumlah hotspot tercatat mencapai 31 titik yang tersebar di delapan provinsi.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Anggun, menyebutkan pemantauan satelit menunjukkan konsentrasi titik panas masih didominasi wilayah bagian barat dan selatan Sumatera.
“Total hotspot wilayah Sumatera hari ini terdeteksi sebanyak 31 titik,” ujarnya.
Data ini menjadi indikator penting dalam deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama menjelang periode cuaca lebih kering di beberapa wilayah.
Berdasarkan pemantauan BMKG, distribusi titik panas di Sumatera meliputi Aceh 10 titik, Sumatera Selatan 10 titik, Bangka Belitung 3 titik, Kepulauan Riau 2 titik, Lampung 2 titik, Riau 2 titik, Sumatera Utara 1 titik dan Jambi 1 titik.
Dominasi Aceh dan Sumatera Selatan menandakan meningkatnya potensi kebakaran di wilayah dengan lahan gambut luas serta area perkebunan dan hutan produksi.
Meski jumlahnya masih relatif rendah, Riau tetap masuk dalam daftar wilayah yang terpantau satelit.
Anggun merinci lokasi titik panas di provinsi ini berada di dua kabupaten pesisir.
“Untuk Provinsi Riau terdapat dua hotspot, masing-masing di Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Kepulauan Meranti,” jelasnya.
Kedua wilayah tersebut dikenal memiliki ekosistem gambut yang rentan terbakar saat periode kering.
Kemunculan puluhan hotspot di Sumatera pada akhir April menjadi sinyal awal kewaspadaan menghadapi musim kemarau bertahap.
Data hotspot biasanya digunakan sebagai indikator awal sebelum terjadi kebakaran skala besar.
Penguatan patroli darat, kesiapan pemadaman dini, serta edukasi masyarakat dinilai krusial untuk mencegah peningkatan jumlah titik panas dalam beberapa pekan ke depan.