PEKANBARU – Aktivitas titik panas di Pulau Sumatera kembali meningkat. Data pemantauan terbaru menunjukkan total 106 hotspot terdeteksi pada Sabtu (25/4/2026), tersebar di sejumlah provinsi dengan konsentrasi signifikan di wilayah pesisir dan daratan timur.
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengungkapkan, peningkatan ini perlu diwaspadai karena berpotensi memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla) jika tidak segera ditangani.
“Hari ini terpantau 106 titik panas di Sumatera. Riau menjadi salah satu wilayah dengan jumlah hotspot cukup tinggi,” ujar Yasir.
Berdasarkan pemantauan satelit, distribusi titik panas tercatat di sembilan provinsi. Aceh menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, disusul beberapa provinsi lain di Sumatera bagian timur.
Rinciannya, Aceh 34 titik, Sumatera Utara 1 titik, Sumatera Barat 3 titik, Kepulauan Riau 10 titik, Jambi 16 titik, Sumatera Selatan 14 titik, Bangka Belitung 4 titik, Bengkulu 8 titik dan Riau 16 titik.
Di Provinsi Riau, hotspot tersebar di empat wilayah. Kota Dumai menjadi daerah dengan jumlah terbanyak, disusul Kabupaten Siak.
Sebaran hotspot di Riau meliputi, Kota Dumai 7 titik, Kabupaten Siak 5 titik, Kabupaten Rokan Hilir 2 titik dan Kabupaten Indragiri Hulu 2 titik.
Kondisi ini menunjukkan potensi kerawanan karhutla masih tinggi, terutama di kawasan gambut dan wilayah pesisir yang rentan terbakar saat cuaca kering.
Lonjakan hotspot pada akhir April menjadi sinyal awal meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan menjelang periode kemarau.
Pemantauan berkelanjutan serta upaya pencegahan di tingkat daerah menjadi kunci menekan potensi bencana asap.
Pemerintah daerah dan masyarakat diimbau meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas pembakaran lahan yang dapat memperburuk kondisi lingkungan.