PEKANBARU - Jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera menunjukkan tren penurunan signifikan.
Berdasarkan pembaruan data per Senin (16/2/2026), total hotspot yang terdeteksi hanya 51 titik, jauh lebih rendah dibandingkan hari-hari sebelumnya.
Forecaster On Duty di BMKG Pekanbaru, Gita Dewi menyampaikan, penurunan ini menjadi indikator positif dalam pengendalian potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 51 titik. Angka ini jauh menurun dibandingkan sebelumnya,” ujarnya.
Dari total 51 titik panas di Sumatera, Provinsi Riau masih menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 40 titik.
Sementara sisanya tersebar di beberapa provinsi lain, yaitu Aceh 2 titik, Bangka Belitung 1 titik dan Kepulauan Riau 8 titik.
Di Riau sendiri, sebaran titik panas terkonsentrasi di sejumlah kabupaten/kota yakni, Kabupaten Bengkalis 21 titik, Kabupaten Pelalawan 11 titik, Kabupaten Siak 5 titik, Kota Dumai 2 titik dan Kabupaten Indragiri Hilir 1 titik.
Menurut Gita, wilayah pesisir dan lahan gambut masih menjadi area yang perlu diwaspadai karena rentan terbakar saat kondisi cuaca kering.
“Kami mengimbau seluruh pihak tetap waspada, terutama di daerah yang masih terdeteksi hotspot. Meski menurun, potensi kebakaran tetap ada,” tegasnya.
Penurunan jumlah hotspot ini menjadi sinyal membaiknya kondisi pengendalian karhutla di Sumatera.
Namun demikian, faktor cuaca seperti suhu udara tinggi dan minimnya curah hujan tetap berpotensi memicu kemunculan titik panas baru.
Pengawasan terpadu antara pemerintah daerah, aparat penegak hukum, dan masyarakat dinilai krusial untuk menjaga tren positif ini.
Terlebih, beberapa wilayah di Riau dikenal memiliki hamparan gambut luas yang mudah terbakar saat musim kemarau.