PEKANBARU - Persoalan banjir masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan di Kota Pekanbaru. Sejumlah wilayah masih terdampak, salah satunya Kecamatan Marpoyan Damai yang kerap dilanda genangan saat hujan deras turun.
Tak hanya merendam ruas jalan, banjir juga menggenangi permukiman warga hingga lingkungan sekolah, sehingga mengganggu aktivitas masyarakat.
Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, menegaskan bahwa penanganan banjir tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah kota semata. Menurutnya, ada sejumlah titik yang menjadi kewenangan pemerintah provinsi hingga pemerintah pusat.
Ia menyoroti salah satu titik krusial, yakni gorong-gorong di Jalan Soekarno Hatta yang dinilai menjadi penyebab terhambatnya aliran air.
"Ada gorong-gorong di Jalan Soekarno Hatta, tepatnya dekat Eco Green, posisinya di bawah aspal, sehingga harus dibongkar," ujarnya.
Agung menjelaskan, pembongkaran gorong-gorong tersebut diperlukan agar aliran air dapat mengalir dengan lancar menuju Sungai Kampar.
Ia menyebut, saat hujan deras, arus air di gorong-gorong tersebut cukup kuat namun terhambat, sehingga menyebabkan genangan di sejumlah titik.
"Maka harus dibuat, bagaimana aliran air lancar, tidak terhambat lagi," terangnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan bahwa upaya penanganan banjir oleh pemerintah kota saat ini telah berjalan sesuai kewenangan. Namun, hasil maksimal hanya dapat dicapai jika ada sinergi dengan pemerintah provinsi dan pusat.
"Agar penanganan banjir bisa optimal, sebab penanganan banjir ini butuh koordinasi dengan semua pihak," ungkapnya.
Banjir di Kecamatan Marpoyan Damai semakin menjadi sorotan setelah insiden tragis yang terjadi pada 10 April 2026 lalu. Seorang pengendara sepeda motor dilaporkan meninggal dunia setelah terbawa arus parit saat banjir melanda kawasan tersebut.