PELALAWAN - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kuala Kampar, Kabupaten Pelalawan dilaporkan semakin meluas.
Sebaran titik panas (hotspot) terpantau mencapai 57 titik, dengan api membakar semak belukar di lahan milik masyarakat dan memicu asap tebal yang mulai mengganggu jarak pandang petugas.
Lokasi karhutla tersebar di Desa Sungai Upih, Desa Teluk Beringin, dan Desa Serapung.
Kondisi lapangan makin sulit karena kawasan yang terbakar merupakan lahan gambut dalam, yang dikenal menyimpan bara api di bawah permukaan.
Kadis Damkar dan Penyelamatan Pelalawan, Indra Putra mengatakan, fokus pemadaman saat ini diarahkan ke titik api terbesar.
“Api yang paling besar di Desa Sungai Upih. Proses pemadaman difokuskan di situ sekarang. Tim kita juga ikut bersama personel lainnya di lokasi,” ujar Indra Putra, Rabu (4/2/2026).
Selain karakter tanah gambut, angin kencang menjadi faktor utama yang membuat api cepat menyebar.
Tiupan angin menyebabkan asap semakin pekat sekaligus membuat titik api yang sempat padam kembali menyala.
Petugas juga menghadapi risiko munculnya titik kebakaran baru akibat bunga api yang terbawa angin ke area yang sebelumnya aman.
“Kalau stok air untuk pemadaman masih aman, ada di sekitar lokasi. Tapi angin kencang yang membuat sulit,” tambahnya.
Pemadaman dilakukan melalui operasi darat dengan personel gabungan dari berbagai unsur, mulai dari, TNI, Polri, Masyarakat Peduli Api (MPA), Damkar Pelalawan, BPBD, Pemerintah kecamatan, Pemerintah desa dan Warga setempat.
Petugas membawa peralatan pemadam untuk menahan laju api yang terus membesar, sembari melakukan pendinginan di area yang sudah dilokalisir.
Lahan gambut yang terbakar disebut cukup dalam, sehingga proses pemadaman tidak cukup hanya memadamkan api di permukaan.
Petugas harus melakukan penyiraman ekstra untuk memastikan bara api di dalam tanah benar-benar padam total.
Kondisi ini membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama dan tenaga lebih besar dibanding kebakaran di lahan mineral biasa.