JAKARTA - Dalam sejarah awal Islam, nama Utsman bin Mazh’un menempati posisi istimewa sebagai simbol keberanian moral dan keteguhan tauhid.
Ia bukan hanya termasuk generasi awal pemeluk Islam, tetapi juga sahabat Nabi Muhammad yang dengan sadar memilih risiko penyiksaan demi keadilan iman dan solidaritas sesama muslim.
Berasal dari Bani Jumah, salah satu kabilah terkemuka Quraisy, Utsman bin Mazh’un tumbuh dalam lingkungan masyarakat Makkah yang kental dengan tradisi jahiliyah.
Namun latar belakang tersebut tidak menghalanginya menerima risalah Islam, meski konsekuensinya adalah tekanan sosial dan kekerasan fisik.
Sejarawan Islam mencatat Utsman bin Mazh’un sebagai salah satu dari 40 orang pertama yang memeluk Islam, bahkan orang ke-14 yang menyatakan keislamannya secara terbuka.
Dalam Sirah Nabawiyah, Ibnu Hisyam meriwayatkan bahwa ia masuk Islam melalui dakwah Abu Bakar ash-Shiddiq, pada masa Rasulullah masih berdakwah secara sembunyi-sembunyi.
Posisi ini menjadikannya bagian dari fondasi awal umat Islam, yang menghadapi tekanan hebat dari kaum Quraisy.
Keteguhan iman Utsman bin Mazh’un mencapai puncaknya ketika ia secara sadar menolak jaminan keamanan dari pamannya, Walid bin Mughirah, seorang tokoh besar Quraisy yang masih musyrik. Keputusan itu bukan tanpa pertimbangan, melainkan lahir dari kegelisahan nurani.
“Sungguh aib besar bagiku jika aku hidup aman, sementara sahabat-sahabatku disiksa di jalan Allah,” ujar Utsman, sebagaimana diriwayatkan Ibnu Hisyam.
Saat banyak sahabat Nabi disiksa tanpa perlindungan, Utsman justru hidup aman di bawah jaminan tokoh Quraisy.
Situasi ini membuatnya merasa tidak adil dan bertentangan dengan nilai keimanannya.
“Aku hanya ingin berlindung kepada Allah dan tidak kepada selain-Nya,” tegasnya.
Ia pun mendatangi Walid bin Mughirah dan mengembalikan perlindungan tersebut secara terbuka.
“Engkau telah menunaikan tanggung jawabmu, dan kini aku mengembalikan perlindungan itu,” kata Utsman.
Keputusan berani itu segera berbuah risiko. Di hadapan kaum Quraisy, Utsman menyatakan bahwa perlindungan manusia tidak sebanding dengan perlindungan Allah.
Ketika terjadi perdebatan dengan Labid bin Rabi’ah, Utsman menegaskan keyakinannya.
“Ketahuilah, segala sesuatu selain Allah adalah batil,” kata Labid.
“Dan kenikmatan surga tidak akan pernah musnah,” jawab Utsman.
Ucapan tersebut memicu amarah sebagian Quraisy hingga berujung kekerasan. Salah seorang dari mereka meninju mata Utsman bin Mazh’un hingga lebam.
Walid bin Mughirah pun berkata dengan nada menyesal,
“Seandainya engkau tetap berada dalam perlindunganku, matamu tidak akan seperti ini.”
Namun Utsman menjawab dengan keyakinan penuh,
“Mataku yang sehat sangat membutuhkan apa yang menimpa saudaranya di jalan Allah.”
Ia menutup pernyataannya dengan kalimat tauhid yang mendalam,
“Kini aku berada dalam perlindungan Dzat yang lebih kuat dan lebih berkuasa darimu.”
Kisah Utsman bin Mazh’un bukan sekadar catatan sejarah, melainkan teladan tentang keberanian moral, keadilan sosial, dan ketulusan iman. Ia memilih merasakan penderitaan bersama kaum muslimin, menolak privilese duniawi, dan menyerahkan sepenuhnya perlindungan hidupnya kepada Allah.