PEKANBARU - Peningkatan signifikan jumlah titik panas (hotspot) kembali terpantau di wilayah Sumatera, dengan Provinsi Riau menjadi penyumbang terbesar pada Rabu (25/3/2026).
Data terbaru mencatat total 582 hotspot tersebar di berbagai provinsi, memicu kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir mengungkapkan, Riau mendominasi jumlah titik panas dibanding wilayah lain di Sumatera.
“Total hotspot di wilayah Sumatera hari ini mencapai 582 titik, dan Riau menjadi penyumbang tertinggi dengan 302 titik,” ujarnya.
Secara rinci, distribusi hotspot di sejumlah provinsi meliputi, Aceh 36 titik, Sumatera Utara 18 titik, Sumatera Barat 3 titik, Jambi 25 titik, Sumatera Selatan 34 titik, Bengkulu 28 titik, Lampung 7 titik dan Riau 302 titik.
Di dalam Provinsi Riau, dua wilayah tercatat sebagai daerah dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni Kabupaten Bengkalis dan Pelalawan.
Rinciannya, Kabupaten Bengkalis 118 titik, Kabupaten Pelalawan 107 titik, Indragiri Hilir 35 titik, Kota Dumai 23 titik, Rokan Hilir 8 titik, Indragiri Hulu 7 titik, Kepulauan Meranti 2 titik dan Siak 2 titik.
Kondisi ini menunjukkan adanya peningkatan risiko kebakaran lahan, terutama di wilayah pesisir dan area dengan lahan gambut yang rentan terbakar saat cuaca kering.
Tingginya jumlah hotspot menjadi indikator kuat meningkatnya potensi karhutla di Riau. Apalagi, wilayah seperti Bengkalis dan Pelalawan selama ini dikenal sebagai daerah rawan kebakaran akibat karakteristik lahannya.
BMKG mengingatkan bahwa pemantauan intensif perlu terus dilakukan, terutama di daerah dengan konsentrasi hotspot tinggi.
“Kami terus memantau perkembangan hotspot sebagai langkah deteksi dini potensi kebakaran hutan dan lahan,” tukasnya.
Dengan kondisi ini, masyarakat dan pemangku kepentingan diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan serta tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan.
Upaya pencegahan dinilai krusial guna menghindari meluasnya kebakaran yang dapat berdampak pada kualitas udara dan kesehatan masyarakat.