PEKANBARU – Pemantauan satelit menunjukkan peningkatan aktivitas titik panas di Pulau Sumatera pada awal Mei 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat total 44 hotspot terdeteksi sepanjang Jumat (1/5/2026).
Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Yasir menegaskan, sebaran titik panas tersebar di sejumlah provinsi dengan konsentrasi tertinggi berada di Riau.
“Total titik panas di wilayah Sumatera hari ini terpantau sebanyak 44 titik, dan Riau menjadi provinsi dengan jumlah terbanyak,” ujar Yasir.
Berdasarkan data pemantauan satelit, distribusi hotspot di Sumatera meliputi Aceh 9 titik, Jambi 6 titik, Sumatera Utara 6 titik, Sumatera Selatan 4 titik, Kepulauan Riau 4 titik, Bengkulu 1 titik, Bangka Belitung 1 titik dan Riau 13 titik.
Kondisi ini menempatkan Riau sebagai wilayah dengan kontribusi hotspot tertinggi pada hari tersebut.
Sebaran titik panas di Provinsi Riau terpantau di tujuh kabupaten/kota, yakni Kabupaten Rokan Hilir 4 titik, Kabupaten Pelalawan 3 titik, Kabupaten Indragiri Hilir 2 titik, Kota Dumai 1 titik, Kabupaten Bengkalis 1 titik, Kabupaten Siak 1 titik dan Kabupaten Indragiri Hulu 1 titik.
BMKG mengingatkan bahwa hotspot merupakan indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang perlu diantisipasi.
Lonjakan titik panas di awal Mei dinilai berkaitan dengan mulai berkurangnya curah hujan di sebagian wilayah Sumatera. Situasi ini meningkatkan potensi kebakaran lahan jika tidak diantisipasi sejak dini.
BMKG mengimbau pemerintah daerah, pemangku kepentingan, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan serta memperkuat langkah pencegahan.
“Pemantauan hotspot menjadi bagian penting deteksi dini karhutla agar penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” kata Yasir.